TENAERS – Forum Pemuda Nusa Tenggara Timur (NTT) bersama Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) menyampaikan keprihatinan dan penyesalan yang mendalam atas peristiwa-peristiwa yang terjadi di Pulau Bali yang melibatkan oknum individu yang disebut berasal dari wilayah SBD.
Ketua Umum Forum Pemuda NTT Yohanes Hiba Ndale menegaskan bahwa perbuatan tersebut merupakan tindakan individual dan tidak dapat digeneralisasi sebagai perbuatan kolektif masyarakat SBD maupun NTT secara keseluruhan.
“Perbuatan individu bukanlah perbuatan kolektif. Tidak boleh satu peristiwa kemudian mengatasnamakan atau menghakimi masyarakat Sumba Barat Daya maupun NTT secara umum,” kata Yohanes Hiba Ndale dalam konferensi pers di Lapangan Galatama, Kota Tambolaka, Kamis, 15 Januari 2026.
Baca Juga: Pernyataan soal Bunda Maria Berujung Laporan, Pendeta di Sumba Segera Dipanggil Polisi
Ia menyampaikan, sebagai bagian dari bangsa Indonesia, Forum Pemuda NTT memandang tindakan-tindakan yang meresahkan masyarakat, melanggar hukum, dan mencederai rasa aman publik sebagai perbuatan yang tidak patut dan tidak terpuji.
Tindakan semacam itu, menurut dia, tidak mencerminkan nilai-nilai luhur masyarakat SBD yang selama ini menjunjung tinggi perdamaian dan hidup rukun.
“Kami menilai tindakan yang melanggar hukum dan mencederai rasa aman publik adalah perbuatan yang tidak patut serta tidak mencerminkan nilai-nilai luhur masyarakat SBD yang cinta damai dan menjunjung tinggi martabat kemanusiaan,” ujarnya.
Baca Juga: Bukan Sekadar Toko, NTT Mart Jadi Pusat Transaksi UMKM SBD, ASN Wajib Belanja Produk Lokal
Forum Pemuda NTT bersama PHDI SBD juga menyatakan dukungan penuh terhadap proses penegakan hukum yang adil, objektif, dan profesional.
Yohanes menegaskan bahwa setiap individu harus bertanggung jawab atas perbuatannya sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.
“Kami mendukung sepenuhnya proses penegakan hukum yang adil, objektif, dan profesional, agar setiap individu bertanggung jawab atas perbuatannya sesuai hukum yang berlaku,” katanya.
Baca Juga: Bumi Ini Rumah Bersama: Ketika Hutan Sumba Barat Daya Dibabat, Tambolaka Mulai Tergenang
Di sisi lain, Yohanes mengajak seluruh masyarakat, termasuk para pengguna media sosial seperti Facebook, Instagram, YouTube, dan X, untuk tidak menarik kesimpulan yang bersifat generalisasi, stigma, maupun stereotip terhadap suatu daerah atau kelompok masyarakat tertentu.






