“Belilah barang-barang yang ada di NTT. Kalau memang tidak ada, baru kita beli dari luar. Supaya uang itu berputar di daerah sendiri,” ujarnya.
Di tingkat daerah, Bupati Sumba Tengah Paulus SK Limu melihat NTT Mart sebagai instrumen penting untuk mengonsolidasikan potensi lokal yang selama ini terfragmentasi.
Baca Juga: Bandara Tambolaka Resmi Ganti Nama! Ini Arti Lede Kalumbang dan Rute Barunya
Ia menyebut Sumba Tengah memiliki puluhan jenis produk unggulan yang sulit berkembang jika dipasarkan secara terpisah.
“Ada sekitar 30 jenis produk yang tidak bisa dipasarkan satu per satu kalau bukan melalui NTT Mart. Ini adalah rumah bersama bagi produk lokal,” kata Paulus.
Untuk memastikan NTT Mart benar-benar hidup, Paulus mengambil langkah tegas dengan menggerakkan aparatur pemerintahan sebagai pasar awal.
Baca Juga: Ganti Nahkoda di Garis Depan RI–RDTL! Oktovianus Mau Pegang Kendali PMKRI Atambua
“Kurang lebih 3.000 pegawai dan aparat desa sudah saya perintahkan untuk berbelanja di NTT Mart. Semua tamu yang datang ke Sumba Tengah juga harus masuk dan belanja di sini,” ujarnya.
Menurutnya, penguatan ekonomi berbasis pangan dan pertanian lokal akan berdampak langsung pada peningkatan pendapatan masyarakat dan pendapatan per kapita daerah.
Sumba Tengah, kata Paulus, memiliki potensi lahan pertanian yang besar dan terus dikembangkan untuk menopang ketahanan pangan.
Peresmian NTT Mart di Sumba Tengah tidak hanya menjadi agenda ekonomi, tetapi juga perayaan identitas lokal.
Acara tersebut dimeriahkan dengan tarian daerah serta penampilan vokal grup SMA Kristen Waibakul yang membawakan lagu Rambu Reta dan Tabola Bale, menandai pertemuan antara ekonomi, budaya, dan harapan baru bagi produk lokal NTT.***




