Melki juga menyinggung potensi komoditas Pinang, yang menurutnya belum dimanfaatkan secara optimal.
“Kebutuhan Pinang di NTT mencapai Rp1 triliun per tahun dan sebagian besar kita beli dari luar daerah. Ini ironis, karena Pinang juga bagian dari budaya kita. Kampus bisa jadi motor untuk riset dan pengembangan produk lokal ini,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Gubernur Melki bersama pihak kampus juga meluncurkan inovasi Pupuk Organik Cair Biofertilizer Stella Maris, hasil riset dari mahasiswa dan dosen Unmaris.
Baca Juga: Bangga dan Haru, Rektor Unmaris Sumba Puji Prestasi Mahasiswa di Lomba Nasional
Produk tersebut menjadi bukti nyata keterlibatan perguruan tinggi dalam mendukung program One Village One Product (OVOP) atau Satu Desa Satu Produk yang kini dikembangkan menjadi Satu Kampus Satu Produk.
“Kami ingin setiap kampus di NTT punya produk unggulan sendiri. Dengan begitu, mahasiswa tidak hanya lulus dengan ijazah, tapi juga punya pengalaman menciptakan nilai ekonomi,” tutur Gubernur Melki.
Sementara itu, Rektor Unmaris, Alexander Adis, menyampaikan rasa terima kasih kepada Pemerintah Provinsi NTT dan seluruh pihak yang mendukung pembangunan gedung baru tersebut.
Baca Juga: Pertama Kali Ikut Lomba, Mahasiswi Unmaris Sumba Ini Langsung Sabet Juara 3 Nasional
“Sejak berdiri tahun 2008, kami terus berjuang menghadirkan pendidikan tinggi yang berkualitas di Sumba. Kehadiran gedung St. Alexander menjadi semangat baru bagi kami untuk mencetak sumber daya manusia unggul bagi daerah,” ujarnya.
Ketua Dewan Pembina Yayasan Pendidikan St. Yosef Freinademetz, Lidia Dunga Poety, juga mengungkapkan komitmen yayasan untuk menjaga sinergi dengan pemerintah daerah dalam mengembangkan pendidikan di Sumba.
“Kami berharap kolaborasi ini terus terjaga, agar Universitas Stella Maris menjadi mitra strategis pemerintah dalam membangun SDM unggul di NTT,” kata Lidia.***






