Namun, masa pendudukan Jepang pada 1942 mengubah segalanya. Gereja-gereja ditutup, misionaris asing ditangkap, dan ibadah publik dilarang.
Dalam situasi tersebut, Peter To Rot tetap berani melanjutkan pelayanan rohaninya secara diam-diam, mempertaruhkan keselamatannya demi menjaga iman umat.
Sikap tegasnya menolak kebijakan poligami yang diberlakukan oleh otoritas pendudukan membuatnya menjadi sasaran. Ia tetap membela martabat sakramen pernikahan dan kesetiaan suami-istri, meskipun mengetahui risiko yang menanti.
Baca Juga: 5 Doa Katolik yang Menyentuh Hati untuk Menutup Bulan Juni dengan Damai
Pada Desember 1944, ia ditangkap dan dipenjara. Beberapa bulan kemudian, pada 7 Juli 1945, ia ditemukan meninggal dunia di dalam selnya.
Ia wafat dalam usia 33 tahun, meninggalkan warisan iman yang abadi.
Delapan puluh tahun kemudian, pengakuan atas kehidupannya mencapai puncak dengan kanonisasi oleh Gereja universal.
Baca Juga: Jejak Ilahi di Pulau Sumba, Uskup Weetebula Ungkap Tempat Bersejarah Awal Gereja Katolik
Peter To Rot kini dihormati sebagai Santo Peter To Rot, seorang katekis, suami, dan ayah yang kesetiaannya kepada Kristus menjadi cahaya bagi Gereja masa kini.
Kisah hidupnya menjadi inspirasi bagi kaum awam, katekis, dan keluarga-keluarga Katolik di seluruh dunia untuk tetap setia dalam iman di tengah tantangan zaman.
Dari desa kecil di New Britain, teladan Peter To Rot kini melintasi batas waktu dan tempat, menyapa Gereja universal sebagai simbol keberanian, kesetiaan, dan kekudusan hidup sehari-hari.***






