Paskah Tanpa Kebebasan, Iman yang Bertahan di Tengah Reruntuhan Gaza

  • Bagikan
Umat ​​Kristen menghadiri prosesi Minggu Palma di Yerusalem
Umat ​​Kristen menghadiri prosesi Minggu Palma di Yerusalem. (Tenaers/Vatican News)
WhatsApp Channel Banner

TENAERS — Di tengah deru bom dan kepulan asap dari gedung-gedung yang runtuh, umat Kristen di Gaza tetap berusaha merayakan Paskah dengan penuh harap dan iman.

Meski tanpa perarakan di jalanan seperti tahun-tahun sebelumnya, mereka berkumpul dalam doa, diam-diam, dengan jiwa yang lelah tapi hati yang tetap menyala.

“Suasana Paskah tahun ini benar-benar berbeda. Tidak ada kebaktian di luar ruangan, tidak ada prosesi seperti biasanya. Tapi kami tetap merayakannya, dalam keheningan dan pengharapan,” ujar Pastor Gabriel Romanelli, pastor paroki Gereja Latin Keluarga Kudus di Gaza, dalam wawancara dengan media Asianews seperti dilaporkan Vatican News dikutip Tenaers.com, Selasa, 15 April 2025.

Baca Juga: Paus Fransiskus: Lepaskan Semua Beban, Rasakan Kasih Tuhan yang Tak Bersyarat

Perayaan Paskah tahun ini datang di tengah kondisi yang semakin memburuk akibat konflik berkepanjangan antara Israel dan Hamas.

Serangan udara, tembakan artileri, dan pemutusan jalur bantuan kemanusiaan membuat kehidupan warga sipil, termasuk umat Kristen semakin terhimpit.

Rumah sakit dan infrastruktur penting turut menjadi sasaran, seperti yang terjadi pada Minggu Palma lalu di Rumah Sakit Ahli Arab.

Baca Juga: Paus Fransiskus: Tuhan Masuk Lewat Luka Kita, Bukan Setelah Kita Sembuh

Namun, di tengah kehancuran itu, semangat iman tampak tak luntur.

“Keinginan untuk merayakan Paskah, terutama di kalangan anak-anak dan remaja, jauh lebih kuat dari rasa takut,” kata Pastor Romanelli.

“Kami berkumpul, kami berdoa bersama. Ada umat dari berbagai denominasi, termasuk Gereja Ortodoks Yunani, yang mengungsi dan turut hadir dalam misa.”

Baca Juga: Paus Fransiskus Ajak Dunia Rasakan Cinta dan Perdamaian Tuhan

6.000 Izin untuk 50.000 Umat

Sementara itu, di Tepi Barat, umat Kristen Palestina juga menghadapi tantangan besar untuk bisa merayakan Paskah di Yerusalem.

Otoritas Israel hanya mengeluarkan 6.000 izin kunjungan itu pun hanya berlaku selama satu minggu bagi sekitar 50.000 warga Kristen yang berharap dapat mengunjungi Tempat Suci.

  • Bagikan