Pastor Ibrahim Faltas, Vikaris Penitipan Tanah Suci di Yerusalem, menyampaikan kekecewaannya atas keputusan tersebut.
Baca Juga: Bukan Sekadar Iman, Ini Seruan Paus Fransiskus agar Gereja Jadi Obat Bagi Dunia
“Kami telah mengadakan pertemuan tingkat tinggi, tapi tidak berhasil mendapatkan izin tambahan,” tuturnya kepada kantor berita Sir Catholic.
Menurut Pastor Faltas, kebetulan Paskah Kristen dan Paskah Yahudi (Pesach) tahun ini jatuh pada tanggal yang sama, 20 April.
Hal ini seharusnya menjadi momen untuk membangun dialog dan saling menghormati antarumat beragama.
Baca Juga: Kabar Gembira! Orang Papua Ini Resmi Jadi Santo Katolik
“Namun yang terjadi justru sebaliknya: pembatasan, konflik, dan kebencian,” katanya.
“Jangan Lupakan Kami”
Dalam kondisi yang terus memburuk, para pemimpin gereja di Tanah Suci terus menyerukan doa dan solidaritas dari umat Kristiani di seluruh dunia.
“Kami mohon, jangan lupakan kami. Teruslah berdoa untuk perdamaian di Tanah Suci ini. Karena hanya dengan cinta, bukan kekerasan, dunia ini bisa disembuhkan,” ucap Pastor Romanelli.
Baca Juga: Jejak Ilahi di Pulau Sumba, Uskup Weetebula Ungkap Tempat Bersejarah Awal Gereja Katolik
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Paus Fransiskus atas dukungannya yang berkelanjutan kepada umat Kristen di Gaza.
“Beliau selalu dekat dengan kami, bahkan saat dunia terlihat jauh.”
Paskah tahun ini mungkin dirayakan dalam bayang-bayang perang. Namun, di balik luka dan penderitaan, iman tetap tumbuh.
Di reruntuhan Gaza dan tembok-tembok Yerusalem, doa-doa terus dipanjatkan untuk damai yang belum datang, tapi terus diharapkan.***






