Lewat unggahan harian, Suster Ivančica menampilkan realitas kehidupan di Benin, bukan hanya penderitaan, tetapi juga harapan dan kebahagiaan yang ia temukan dalam pelayanan.
“Kabar Baik adalah penawar bagi kesedihan dan keputusasaan. Saya ingin berbagi kehidupan misionaris dari sudut pandang yang positif, menunjukkan bagaimana Tuhan hadir dalam perjumpaan dan pengalaman kami,” katanya.
Ia percaya bahwa melalui kisah yang inspiratif, banyak orang bisa terdorong untuk membantu, baik dalam bentuk dukungan moral, doa, maupun donasi.
Bahkan, beberapa relawan yang datang ke Afrika tergerak setelah membaca kisah-kisah yang ia bagikan.
Tantangan dalam Berbagi Kisah
Meski bermanfaat, berbagi cerita bukan tanpa tantangan. Selain keterbatasan akses internet dan kendala teknis lainnya, ada juga perbedaan budaya yang dapat menimbulkan kesalahpahaman.
“Kadang, saya membagikan momen sehari-hari di Afrika yang tidak dipahami oleh khalayak Barat. Mereka mungkin menghakimi tanpa memahami konteksnya,” jelasnya.
Oleh karena itu, ia selalu berusaha menyajikan cerita dengan perspektif yang lebih luas agar audiens bisa memahami realitas di lapangan tanpa prasangka.
Misi yang Diperkuat dengan Cerita
Bagi Suster Ivančica, komunikasi bukan sekadar pelengkap, tetapi bagian dari pelayanan itu sendiri.
Ia percaya bahwa setiap kisah yang dibagikan bisa menginspirasi perubahan, sekecil apa pun dampaknya.
“Jika melalui cerita saya, ada satu hati yang tersentuh dan ingin membantu, maka itu sudah merupakan anugerah dari Tuhan,” pungkasnya.***

