Baca Juga: Paus Fransiskus: Lepaskan Semua Beban, Rasakan Kasih Tuhan yang Tak Bersyarat
Yang Diserang Itu Manusia
Nada emosional semakin kuat ketika Paus Fransiskus berbicara tentang Afrika.
Ia menyebut kekerasan di Republik Demokratik Kongo, Sudan, Sahel, dan wilayah Great Lakes sebagai tragedi kemanusiaan yang tidak boleh diabaikan.
“Dalam menghadapi kekejaman konflik yang melibatkan warga sipil yang tak berdaya dan menyerang sekolah, rumah sakit, dan pekerja kemanusiaan, kita tidak boleh lupa bahwa yang diserang bukanlah target, tetapi manusia,” tegas Paus, dalam kalimat yang menyentuh banyak hati.
Baca Juga: Paus Fransiskus: Tuhan Masuk Lewat Luka Kita, Bukan Setelah Kita Sembuh
Ia menekankan bahwa setiap korban memiliki jiwa dan martabat yang tidak bisa diabaikan oleh kepentingan politik atau kekuasaan.
Damai Tak Akan Datang Tanpa Kebebasan
Paus Fransiskus juga menegaskan bahwa perdamaian tidak akan tercapai tanpa kebebasan beragama dan kebebasan berpikir.
“Tidak akan ada perdamaian tanpa kebebasan beragama,” katanya, seraya menyerukan pelucutan senjata nyata dan investasi pada pembangunan manusia, bukan perlombaan senjata.
Baca Juga: Paus Fransiskus Ajak Dunia Rasakan Cinta dan Perdamaian Tuhan
Ajakan Paus: Robohkan Penghalang, Bangun Masa Depan
Menutup pesannya, Paus Fransiskus mengajak semua pihak untuk “meruntuhkan penghalang yang memisahkan kita,” baik itu penghalang fisik, politik, ekonomi, maupun spiritual.
Ia mengimbau pemimpin dunia untuk mengarahkan sumber daya pada pembangunan, bukan peperangan.
“Ini adalah ‘senjata’ perdamaian: senjata yang membangun masa depan, alih-alih menabur benih kematian,” ujarnya.
Dalam Paskah ini, kata Paus, kebangkitan Kristus menjadi sumber harapan bahwa dunia suatu hari nanti akan bebas dari benturan senjata dan gemuruh kematian.***






