Kondisi ini diperparah dengan belum adanya sistem retribusi dan pengelolaan wisata yang profesional.
Baca Juga: 8 Makanan Ini Bisa Buka Sumbatan Pembuluh Darah Tanpa Obat, Nomor 4 Sering Kamu Abaikan!
Di sejumlah lokasi, pungutan dilakukan secara mandiri oleh warga setempat tanpa kejelasan legalitas dan pengelolaan dana.
Pengunjung kerap diminta membayar parkir, tiket masuk, atau biaya foto tanpa karcis resmi, yang pada akhirnya tidak berdampak langsung terhadap kas daerah maupun pembangunan destinasi.
Di sisi lain, potensi ekonomi dari wisata adat dan budaya juga belum dikembangkan secara menyeluruh.
Baca Juga: Traffic Light di SBD Dijamin! Dapat Garansi 3 Tahun, Dishub: Bukan Sekadar Pasang
Tradisi unik seperti Pasola memiliki daya tarik tinggi, namun belum terintegrasi dalam paket wisata yang mampu memberi nilai tambah bagi pelaku ekonomi lokal.
Minimnya pelatihan bagi masyarakat, kurangnya promosi profesional, dan belum terbangunnya kerja sama yang kuat antara pemerintah, desa wisata, dan pihak swasta menyebabkan potensi besar ini seolah berjalan di tempat.
Dalam situasi seperti ini, pariwisata Sumba Barat Daya tampak hanya menjadi objek tontonan, bukan tumpuan ekonomi.
Baca Juga: Buka Pendaftaran! Universitas Stella Maris Sumba Tawarkan Beasiswa dan Fasilitas Lengkap
Kekayaan alam dan budaya yang seharusnya menjadi motor penggerak kesejahteraan masyarakat, justru terbengkalai karena kurangnya perhatian terhadap tata kelola dan perencanaan yang berkelanjutan.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka peluang emas untuk menjadikan Sumba Barat Daya sebagai destinasi unggulan nasional dapat hilang begitu saja.
Keindahan yang mengagumkan tidak akan cukup tanpa pengelolaan yang serius dan profesional.***






