Baca Juga: Tanah Diserobot dan Tanaman Warga Dirusak, Petani di Sumba Barat Daya Hanya Bisa Menangis
Bentuk penghormatan itu bisa beragam:
- Mengabadikan nama dan karya pemimpin terdahulu lewat penamaan jalan, bangunan, atau monumen.
- Menjaga warisan budaya serta tradisi yang mereka tinggalkan.
- Mengkaji sejarah kepemimpinan agar masyarakat memahami dampak kebijakan masa lalu.
- Melanjutkan program-program berkelanjutan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
- Menghormati keluarga serta keturunan mereka sebagai bagian dari penghargaan.
Lebih jauh lagi, penghormatan juga bisa diwujudkan lewat peringatan tahunan, penulisan buku sejarah, hingga pendirian museum atau galeri khusus kepemimpinan daerah. Semua itu bukan sekadar simbol, tetapi cara menjaga memori kolektif masyarakat agar tidak tercerabut dari akar sejarahnya.
Merdeka atau Mati
Pada akhirnya, menjadi kepala atau pemimpin sejati bukan soal jabatan, melainkan soal keteladanan. Sejarah sudah membuktikan, seseorang bisa saja menjadi kepala pemerintahan, tetapi gagal menjadi pemimpin yang dihormati.
Baca Juga: Perdhaki dan Unmaris Sumba Bersatu, Warga Moto Dawu Dapat Edukasi Malaria dan Info Kuliah
Kuncinya adalah sikap arif dan bijaksana: menghargai jasa para pendahulu, masyarakat adat, dan masyarakat hukum. Dari situlah lahir kesadaran bahwa pembangunan tidak boleh memutus rantai sejarah, melainkan harus melanjutkan dan memperkuatnya.
“Merdeka atau mati” bukan sekadar slogan, tetapi pilihan moral: pemimpin sejati akan selalu berpihak pada rakyatnya, menjaga warisan leluhur, dan membangun masa depan dengan kejujuran serta keberanian.*** (Artikel ini ditulis oleh Drs. Yohanes Tnesi, Tokoh Masyarakat – Tokoh Adat)






