Ia melemparkan satu pertanyaan sederhana yang langsung disambut gemuruh suara hadirin.
Baca Juga: Indah Tapi Terabaikan! Destinasi Wisata Hits di Sumba Barat Daya Ini Belum Hasilkan Uang
“Bangga tidak jadi warga NTB?” serunya. Jawaban “bangga” menggema memenuhi ruangan.
Zamroni menegaskan bahwa tidak ada satu pun kitab suci yang mengajarkan keburukan.
Jika ada perilaku yang merusak persatuan, menurutnya, itu bukan ajaran agama, melainkan kegagalan manusia memahami makna keberagaman.
Baca Juga: Kuliner hingga Wisata Lokal, Mahasiswa Diajak Jadi Kreator Digital Andalan
“Kalau sama jangan dipaksa untuk berbeda, kalau berbeda jangan dipaksa untuk sama,” katanya tegas.
Di akhir sambutan, Zamroni Azis dan Gubernur Muhamad Iqbal secara khusus menyampaikan ucapan Selamat Natal kepada umat Kristiani.
Iqbal bahkan menyampaikannya dalam bahasa Inggris, disambut senyum dan tepuk tangan hadirin.
Baca Juga: Dosen Unmaris Sumba Sentil PPT ARSI: Masih Jawa Sentris, Timur Harus Dilibatkan!
Perayaan Natal ini juga dihadiri tokoh lintas agama dan adat, mulai dari Ketua MUI NTB, Ketua Majelis Adat Sasak, Ketua Parisadha Hindu Dharma NTB, Ketua PGI NTB Pdt. Miss Peletimu Sono Bogar, Ketua MKAG NTB Pdt. Kawi Ardhika, hingga unsur TNI-Polri dan Forkopimda NTB.
Khotbah Natal disampaikan oleh Romo Deken NTB, Romo Martinus Emanuel Ano, yang dalam doa syafaatnya secara khusus mendoakan kemajuan dan kesejahteraan NTB.
Ketua Panitia Natal Bersama MKAG NTB, Dr. Eduardus Bayo Sili, SH, M.Hum, menyebut perayaan ini sebagai buah dari kerja kolektif banyak pihak.
Baca Juga: Wings Air Resmi Buka Rute Langsung Lombok–Tambolaka, Ini Jadwalnya
Ia mengajak sejumlah panitia dan Romo Deken NTB berdiri bersamanya di depan podium, memperlihatkan kepada umat siapa saja sosok di balik layar yang membuat acara berjalan meriah dan tertib.
Tarian Jai dari Flobamora NTB, tarian kembang sembah, puji-pujian rohani Kristen dengan iringan musik orkestra, hingga penampilan Joy Fernando menutup rangkaian acara.
Malam itu, Natal bukan hanya dirayakan sebagai peristiwa iman, tetapi juga sebagai perayaan persaudaraan tentang NTB yang terus merawat perbedaan sebagai kekuatan bersama.***






