Baca Juga: NTT Mart Diresmikan, UMKM Sumba Barat Dapat Pasar Baru, Ini Pesan Tegas Gubernur NTT
Ia menambahkan, kebiasaan tersebut tidak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga membebani ekonomi keluarga.
Menurutnya, uang yang selama ini dihabiskan untuk rokok, sirih pinang, dan miras sebaiknya dialihkan untuk memenuhi kebutuhan pangan bergizi.
“Kalau uang itu dipakai untuk beli ikan, sayur, dan telur, itu sudah bagian dari makan bergizi gratis untuk keluarga,” ucap Asadoma.
Baca Juga: Batik Air Resmi Mendarat di Bandara Lede Kalumbang Tambolaka
Lebih lanjut, Asadoma mengungkapkan bahwa Provinsi NTT mengeluarkan sekitar Rp1 triliun setiap tahun untuk membeli pinang dari luar daerah.
Angka tersebut disebut berkontribusi besar terhadap defisit perdagangan NTT yang mencapai Rp51 triliun.
“Ini harus kita sadari bersama. Konsumsi pinang tinggi, tapi kita beli dari luar. Maka masyarakat perlu mulai menanam pinang sendiri agar ekonomi kita mandiri,” jelasnya.
Meski demikian, Asadoma menekankan bahwa pemerintah tidak serta-merta melarang kebiasaan masyarakat, melainkan mengajak untuk mengurangi secara bertahap demi kesehatan.
“Yang paling penting adalah jaga kesehatan. Kurangi rokok, jangan minum miras berlebihan,” pungkasnya.***






