TENAERS — Angka itu turun. Grafiknya bergerak perlahan ke bawah. Namun di balik statistik, kehidupan tidak selalu berubah secepat angka.
Di Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), kemiskinan memang menyusut, tetapi masih menjadi kenyataan sehari-hari bagi banyak keluarga.
Per 30 November 2025, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat persentase penduduk miskin di Sumba Timur berada di angka 25,64 persen.
Baca Juga: Indah Tapi Terabaikan! Destinasi Wisata Hits di Sumba Barat Daya Ini Belum Hasilkan Uang
Dibandingkan tahun sebelumnya, terjadi penurunan sekitar 1,4 persen. Sebuah kemajuan, meski belum cukup untuk membuat daerah ini benar-benar bernapas lega.
Jika ditarik ke belakang, tren itu terlihat konsisten. Sepuluh tahun lalu, kemiskinan di Sumba Timur masih menyentuh 31,43 persen. Perlahan, angkanya turun, tahun demi tahun, hingga berada di level saat ini.
Penurunan tersebut mencerminkan upaya pembangunan yang berjalan, namun juga menegaskan betapa panjang jalan yang masih harus ditempuh.
Baca Juga: Kuliner hingga Wisata Lokal, Mahasiswa Diajak Jadi Kreator Digital Andalan
Pada 2024, jumlah penduduk Sumba Timur tercatat mencapai 269,73 ribu jiwa.
Dengan persentase kemiskinan lebih dari seperempat, artinya puluhan ribu warga masih bergulat dengan keterbatasan ekonomi, baik dari akses pangan, pendidikan, hingga layanan kesehatan.






