“Beliau bukan sekadar mengajar, tetapi mengenal muridnya dengan hati,” tutur Agustinus.
Buah dari pendidikan karakter yang ditanamkan Anis Atolan terlihat nyata dalam Misa Pemakaman di Gereja Katedral Atambua.
Baca Juga: Sumba Timur di Papan Tengah NTT: Kemiskinan Turun, Tapi 1 dari 4 Warga Masih Hidup Sulit
Salah satu imam yang memimpin misa, Romo Lorenso Tae Lake, Pr, merupakan mantan murid almarhum angkatan 1982, sebuah kesaksian hidup tentang pengaruh panjang seorang guru.
Selain di dunia pendidikan, Anis Atolan juga dikenal aktif dalam pelayanan Gereja. Setelah pensiun, ia tetap mendedikasikan waktunya melalui kelompok Legio Maria di Keuskupan Atambua, melayani umat dengan semangat yang sama seperti saat mendidik di ruang kelas.
Agustinus menyebut kepemimpinan Anis Atolan sebagai kepemimpinan yang melayani.
Baca Juga: Bumi Ini Rumah Bersama: Ketika Hutan Sumba Barat Daya Dibabat, Tambolaka Mulai Tergenang
Menurutnya, penghormatan besar yang diberikan umat dan masyarakat, baik di rumah duka maupun saat pemakaman, menjadi bukti nyata betapa dalam jejak pengabdian almarhum di hati banyak orang.
“Atas nama pribadi dan lembaga, kami menyampaikan belasungkawa mendalam kepada keluarga besar almarhum. Nilai disiplin, ketulusan, dan semangat pelayanan yang beliau wariskan harus terus hidup,” kata Agustinus.
Ia berharap generasi muda NTT dapat menjadikan sosok Anis Atolan sebagai inspirasi dalam menempuh jalan pendidikan dan pelayanan.
Baca Juga: Astaga! Zodiak Ini Disebut Paling Gampang Tergoda Perselingkuhan, Kamu Termasuk?
Bagi Agustinus, almarhum telah menanam benih yang akan terus bertumbuh dalam perjalanan panjang daerah ini.
“Selamat jalan Bapak Anis Atolan. Terima kasih atas pengabdian panjangmu bagi pendidikan dan Gereja. Engkau telah menanam, dan kami akan melanjutkan,” pungkas Agustinus.***






