Mengapa Pasola Tidak Boleh Dimulai Sebelum Kuda Nyale Datang? Ini Makna Sakralnya

  • Bagikan
Para kesatria berkuda sedang berkumpul di tengah lapangan untuk mendengarkan arahan dari rato adat yang membawa kuda nyale. (Tenaers/Maksi Tena)
Para kesatria berkuda sedang berkumpul di tengah lapangan untuk mendengarkan arahan dari rato adat yang membawa kuda nyale. (Tenaers/Maksi Tena)
WhatsApp Channel Banner

TENAERS – Pelaksanaan tradisi Pasola digelar di Lapangan Homba Kalaiyo, Kecamatan Kodi Bangedo, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, pada Senin, 9 Februari 2026.

Ritual adat tahunan tersebut berlangsung meriah dan dihadiri ratusan masyarakat setempat serta wisatawan yang ingin menyaksikan secara langsung tradisi budaya masyarakat Sumba.

Sejak pagi hari, kawasan Lapangan Homba Kalayo mulai dipadati peserta Pasola dari berbagai kampung adat.

Baca Juga: Pasola Homba Kalayo Tahun Ini Lebih Tertib! Pengunjung Puas, Fotografer Kebanjiran Order

Para peserta menunggangi kuda sambil mengenakan atribut adat lengkap dan membawa lembing kayu sebagai perlengkapan utama dalam ritual tersebut.

Sebelum Pasola dimulai, masyarakat adat terlebih dahulu melaksanakan rangkaian ritual untuk memastikan kedatangan kuda nyale.

Kedatangan kuda nyale diyakini sebagai tanda restu dari alam dan leluhur bahwa Pasola dapat dilaksanakan.

Baca Juga: Desa Tebara Wakili Indonesia di Forum ASEAN 2026, Tenun Sumba Raih Penghargaan Bergengsi

Salah satu tokoh adat, Beru, menjelaskan jika Pasola tidak dapat digelar apabila kuda nyale belum datang.

Menurutnya, kedatangan kuda nyale merupakan bagian penting dalam aturan adat yang harus dihormati oleh seluruh masyarakat.

Ia menuturkan bahwa tradisi Pasola bukan sekadar pertunjukan ketangkasan berkuda, melainkan memiliki nilai spiritual dan filosofi yang mendalam bagi masyarakat Kodi Bangedo.

Baca Juga: WAJIB Pakai Pakaian Adat! Bupati Sumba Barat Daya Keluarkan Aturan Ketat Jelang Pasola

Terima kasih 🙏 Anda akan diarahkan ke DANA
  • Bagikan