Mengapa Pasola Tidak Boleh Dimulai Sebelum Kuda Nyale Datang? Ini Makna Sakralnya

  • Bagikan
Para kesatria berkuda sedang berkumpul di tengah lapangan untuk mendengarkan arahan dari rato adat yang membawa kuda nyale. (Tenaers/Maksi Tena)
Para kesatria berkuda sedang berkumpul di tengah lapangan untuk mendengarkan arahan dari rato adat yang membawa kuda nyale. (Tenaers/Maksi Tena)
WhatsApp Channel Banner

Dalam pelaksanaan Pasola, para joki saling melempar lembing sebagai simbol pertempuran tradisional.

Meski berpotensi menimbulkan luka, masyarakat adat memegang prinsip bahwa setiap kejadian di dalam arena Pasola tidak boleh memicu konflik di luar arena.

Domi salah satu peserta Pasola mengungkapkan bahwa setiap luka yang terjadi dianggap sebagai bagian dari tradisi.

Baca Juga: Ironi Jaringan Lelet: Antara Keterbatasan, Ketahanan, dan Kelalaian Pembangunan

Ia menegaskan bahwa setelah kegiatan selesai, seluruh peserta wajib menjaga persaudaraan dan tidak menyimpan dendam.

Menurut masyarakat setempat, Pasola menjadi simbol persatuan serta sarana mempererat hubungan sosial antar kelompok masyarakat.

Tradisi ini juga dipercaya sebagai bentuk menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan alam.

Baca Juga:Brutal! Proyek Koperasi Merah Putih di Sumba Gunakan Pasir Laut, Warga Ditangkap Akibat Curi Pasir di Pantai

Pemerintah daerah bersama tokoh adat terus mendorong pelestarian Pasola sebagai identitas budaya masyarakat Sumba Barat Daya.

Selain itu, tradisi tersebut dinilai memiliki potensi sebagai daya tarik wisata budaya sekaligus sarana pendidikan karakter bagi generasi muda.

Pelaksanaan Pasola di Lapangan Homba Kalayo berlangsung dengan tertib dan tetap mengedepankan aturan adat yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh para leluhur.

Hingga kegiatan berakhir, masyarakat tetap menjaga nilai kebersamaan dan menghormati seluruh rangkaian ritual adat yang menjadi bagian penting dari tradisi Pasola.***

Terima kasih 🙏 Anda akan diarahkan ke DANA
  • Bagikan