Siapa Sangka? Peter Dangga, Lulusan Pendidikan Ini Kini Hidupi Keluarga dari Anyaman Bambu!

  • Bagikan
Peter Dangga. (Tenaers/Maksi Tena)
Peter Dangga. (Tenaers/Maksi Tena)
WhatsApp Channel Banner

TENAERS — Di Desa Weekokora, Kecamatan Wewewa Tengah, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, seorang pemuda bernama Petrus Dangga yang akrab disapa Peter, membuktikan hal itu.

Setelah lulus kuliah dan tak kunjung mendapat tempat mengajar, Peter memilih jalur berbeda yakni menjadi pengrajin gedek, anyaman bambu tradisional yang kini menjadi sumber penghidupan utama bagi dirinya dan keluarganya.

“Saya sempat melamar di beberapa sekolah, tapi belum ada panggilan. Akhirnya saya pikir, daripada diam, lebih baik kerja apa saja yang bisa saya lakukan,” tutur Peter saat ditemui di rumah sederhananya di Weekokora, Rabu, 8 Oktober 2025.

Baca Juga: Setelah 10 Tahun Penantian, Duta Vatikan Resmikan Gereja Megah di Sumba Timur: Seperti Basilika Kecil!

Keputusan itu mengubah jalan hidupnya. Dari seorang calon guru, ia kini dikenal sebagai pengrajin gedek muda yang gigih dan kreatif.

Berbekal bambu yang mudah ditemukan di sekitar desa, Peter mulai belajar mengupas kulit bambu dan menganyamnya menjadi lembaran gedek.

Awalnya, Peter tak menyangka bahwa pekerjaan tradisional itu bisa menghasilkan uang.

Baca Juga : Kapan PPPK Paruh Waktu Jadi Penuh Waktu? Ini Jawaban Resmi KemenPAN-RB

Namun, seiring waktu, ia mulai melihat nilai ekonomi dari kerajinan tersebut.

Setiap kulit bambu bisa dijual hingga Rp120.000, sementara itu, satu lembar isi gedek hasil anyamannya bernilai Rp40.000.

Dalam sehari, ia bisa membuat beberapa lembar, tergantung ketersediaan bahan dan cuaca.

Baca Juga: Gaji PPPK 2025 Gak Main-main! Naik, Ada Tunjangan, dan Bonus Tahunan Puluhan Juta

“Kalau bambu bagus dan tidak hujan, bisa cepat kering. Kadang saya buat sampai 10 lembar sehari,” ujarnya sambil tersenyum.

Pekerjaan ini memang tidak mudah. Butuh ketelatenan dan kekuatan fisik untuk membelah, mengupas, dan menganyam bambu.

  • Bagikan