TENAERS – Menjadi pemimpin yang baik tidaklah cukup hanya dengan menduduki jabatan. Lebih dari itu, seorang pemimpin harus mampu menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakatnya.
Dalam konteks masyarakat adat maupun pemerintahan formal, kepemimpinan sejati lahir dari sikap menghormati, memahami, dan menjaga nilai-nilai yang sudah ada.
Pemimpin yang benar adalah mereka yang menghargai adat istiadat, mengakui hak-hak adat, berkonsultasi dalam setiap kebijakan, dan membuka ruang partisipasi masyarakat. Ia tidak sekadar mengatur, tetapi juga menghidupkan kembali budaya serta tradisi yang menjadi identitas.
Baca Juga: Tolak Rencana Utang Rp120 Miliar, PMKRI Kefamenanu Ingatkan Pemda TTU soal Aturan
Di sisi lain, seorang kepala organisasi atau kepala daerah yang ideal adalah mereka yang taat pada hukum, transparan, akuntabel, serta selalu mengutamakan kepentingan masyarakat. Mereka bertugas memastikan kebijakan yang diambil membawa kesejahteraan, bukan sekadar formalitas jabatan.
Perbedaan keduanya jelas: kepala lebih terkait dengan jabatan dan posisi, sementara pemimpin berhubungan dengan pengaruh dan kemampuan menginspirasi. Namun, tujuan akhirnya sama: bagaimana masyarakat bisa hidup lebih adil, makmur, dan bermartabat.
Menghargai Jasa Pemimpin Terdahulu
Ada satu hal yang sering terlupakan: menghormati jasa pemimpin yang sudah mendahului kita. Padahal, penghargaan ini menjadi pondasi moral dan sosial bagi sebuah daerah.






