Planet Ini Hampir Tak Bernapas: Kesalahan Manusia yang Menghancurkan Rumah Bersama

  • Bagikan
Data Tahun 2021 Seluas 30 Hektar Hutan Yawila dan Matakapore Gundul, Diduga Akibat Pembalakan Liar. (HitsIDN.com/Rovyn Tenge)
Data Tahun 2021 Seluas 30 Hektar Hutan Yawila dan Matakapore Gundul, Diduga Akibat Pembalakan Liar. (HitsIDN.com/Rovyn Tenge)
WhatsApp Channel Banner

TENAERS – Ungkapan “planet ini hampir tak bernapas” bukan lagi sekadar metafora. Ia adalah kenyataan yang perlahan tapi pasti kita saksikan setiap hari, termasuk dari sudut timur Indonesia, di Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Di wilayah yang dikenal dengan alam kering namun rapuh ini, sejumlah hutan yang selama puluhan tahun menjadi penyangga kehidupan kini dibabat.

Nama-nama seperti Watu Kanggorok, Yawila, dan Rokoraka bukan sekadar kawasan hijau, melainkan napas bagi tanah, air, dan manusia di sekitarnya.

Baca Juga: Bumi Ini Rumah Bersama: Ketika Hutan Sumba Barat Daya Dibabat, Tambolaka Mulai Tergenang

Dalam beberapa waktu terakhir, pembukaan hutan terjadi tanpa banyak suara. Tidak ada ledakan besar, tidak selalu disertai konflik terbuka.

Namun justru di situlah bahayanya: kerusakan berlangsung pelan, dianggap biasa, seolah-olah alam akan selalu mampu memulihkan dirinya sendiri. Padahal, bumi punya batas. Dan Sumba Barat Daya sedang menyentuh batas itu.

Hutan-hutan di wilayah ini bukan hanya kumpulan pohon. Ia menyimpan air hujan, menahan erosi, menjaga kesuburan tanah, dan melindungi masyarakat dari bencana ekologis.

Baca Juga: Indah Tapi Terabaikan! Destinasi Wisata Hits di Sumba Barat Daya Ini Belum Hasilkan Uang

Ketika hutan dibabat, yang hilang bukan hanya kayu, tetapi juga kemampuan alam untuk bernapas dan mengatur dirinya.

Dampaknya mungkin belum langsung terlihat sebagai kerugian materi, namun gejala awalnya mulai muncul: tanah makin keras, mata air mengecil, dan genangan air mulai terlihat di wilayah yang sebelumnya jarang mengalami hal serupa.

Kita sering lupa bahwa krisis iklim dan kerusakan lingkungan tidak selalu datang dalam bentuk bencana besar yang dramatis. Ia kerap hadir sebagai perubahan kecil yang diabaikan.

Baca Juga: Agus Priatmono Beberkan Fondasi Baru Bandara Lede Kalumbang, Ini Kata Para Tokoh

Genangan air yang tak biasa, musim yang kian sulit ditebak, atau hasil kebun yang menurun pelan-pelan. Semua itu adalah sinyal bahwa keseimbangan alam sedang terganggu.

  • Bagikan