TENAERS – Ungkapan “planet ini hampir tak bernapas” bukan lagi sekadar metafora. Ia adalah kenyataan yang perlahan tapi pasti kita saksikan setiap hari, termasuk dari sudut timur Indonesia, di Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Di wilayah yang dikenal dengan alam kering namun rapuh ini, sejumlah hutan yang selama puluhan tahun menjadi penyangga kehidupan kini dibabat.
Nama-nama seperti Watu Kanggorok, Yawila, dan Rokoraka bukan sekadar kawasan hijau, melainkan napas bagi tanah, air, dan manusia di sekitarnya.
Baca Juga: Bumi Ini Rumah Bersama: Ketika Hutan Sumba Barat Daya Dibabat, Tambolaka Mulai Tergenang
Dalam beberapa waktu terakhir, pembukaan hutan terjadi tanpa banyak suara. Tidak ada ledakan besar, tidak selalu disertai konflik terbuka.
Namun justru di situlah bahayanya: kerusakan berlangsung pelan, dianggap biasa, seolah-olah alam akan selalu mampu memulihkan dirinya sendiri. Padahal, bumi punya batas. Dan Sumba Barat Daya sedang menyentuh batas itu.
Hutan-hutan di wilayah ini bukan hanya kumpulan pohon. Ia menyimpan air hujan, menahan erosi, menjaga kesuburan tanah, dan melindungi masyarakat dari bencana ekologis.
Baca Juga: Indah Tapi Terabaikan! Destinasi Wisata Hits di Sumba Barat Daya Ini Belum Hasilkan Uang
Ketika hutan dibabat, yang hilang bukan hanya kayu, tetapi juga kemampuan alam untuk bernapas dan mengatur dirinya.
