Apa yang terjadi di Watu Kanggorok, Yawila, dan Rokoraka sejatinya adalah potret kecil dari krisis global. Dunia sedang menghadapi pemanasan, polusi, dan budaya membuang yang semakin mengakar.
Namun di daerah-daerah seperti Sumba Barat Daya, dampaknya terasa lebih cepat dan lebih berat karena ketergantungan masyarakat pada alam masih sangat tinggi.
Baca Juga: Kado Spesial HUT SBD: Rute Tambolaka–Surabaya Diluncurkan, Ini Kata Kepala Bandara
Ironisnya, pembabatan hutan sering dibenarkan atas nama pembangunan dan kebutuhan ekonomi jangka pendek. Padahal, ketika hutan hilang, masyarakat justru kehilangan modal hidup jangka panjang.
Tanah menjadi rusak, air menghilang, dan pada akhirnya biaya sosial serta ekologis jauh lebih mahal daripada keuntungan sesaat yang diperoleh.
Hari ini mungkin belum tercatat kerugian besar di atas kertas. Namun genangan air dan perubahan lingkungan yang mulai terasa adalah peringatan dini.
Baca Juga: Usai RSUD dan Kampus Unika, Pemkab SBD Bidik Jalan Waimangura untuk Perluasan Lampu Jalan
Alam sedang memberi tanda bahwa ia tidak baik-baik saja. Jika tanda-tanda ini diabaikan, kita sedang menyiapkan krisis yang lebih besar bagi generasi berikutnya.
Sumba Barat Daya mengajarkan satu hal penting: menjaga bumi bukan isu jauh di tingkat global, melainkan soal keputusan sehari-hari di tingkat lokal.
Ketika hutan dijaga, manusia ikut terjaga. Ketika hutan dibabat tanpa kendali, planet dan kita sendiri perlahan kehilangan napas.
Baca Juga: Rumah Ibu Muslim Jadi Tempat Misa, BRIKasih Turun Tangan Bantu Gereja Katolik St Paulus Sodan
Pertanyaannya kini sederhana namun mendasar: apakah kita masih mau menganggap bumi sekadar sumber yang bisa diambil sesuka hati, atau mulai melihatnya sebagai rumah bersama yang harus dirawat?
Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan apakah Sumba Barat Daya tetap menjadi tanah kehidupan, atau berubah menjadi catatan lain tentang bagaimana manusia gagal menjaga rumahnya sendiri.***






