Ironi Jaringan Lelet: Antara Keterbatasan, Ketahanan, dan Kelalaian Pembangunan

  • Bagikan
Ilustrasi Jaringan Lemah. (Tenaers/Maksi Tena)
Ilustrasi Jaringan Lemah. (Tenaers/Maksi Tena)
WhatsApp Channel Banner

TENAERS – Kota-kota besar, jaringan internet lambat sering dianggap sekadar gangguan kecil.

Namun di banyak wilayah timur Indonesia, jaringan lelet bukan sekadar gangguan ia adalah realitas harian yang membentuk cara masyarakat hidup, belajar, dan bermimpi.

Di sejumlah daerah pelosok, termasuk wilayah kepulauan dan daerah terpencil, sinyal yang tersendat bukan hal asing.

Baca Juga: Dukung Program Pemerintah Pusat, Kades Kadu Eta Hibahkan Lahan untuk Koperasi Merah Putih

Mengirim pesan saja kadang membutuhkan kesabaran, apalagi mengikuti kelas daring atau mengakses layanan digital.

Ironisnya, di balik kesulitan itu, terdapat sisi lain yang jarang dibahas: jaringan lelet justru membentuk karakter masyarakat yang lebih tangguh dan adaptif.

Keterbatasan akses data secara tidak langsung memaksa masyarakat menjadi lebih bijak dalam menggunakan internet.

Baca Juga: Brutal! Proyek Koperasi Merah Putih di Sumba Gunakan Pasir Laut, Warga Ditangkap Akibat Curi Pasir di Pantai

Mereka tidak sembarangan membuka aplikasi, tidak mudah terjebak dalam konsumsi hiburan digital berlebihan, dan cenderung memanfaatkan internet untuk kebutuhan yang benar-benar penting.

Dalam situasi seperti ini, literasi digital terbentuk bukan melalui kemudahan, melainkan melalui keterpaksaan.

  • Bagikan
❤️ Suka artikelnya? Yuk traktir kopi