Bukan Cuma Angka! Di Balik Data Dapodik, Ada Operator yang Lelah, Lapar, dan Terluka

  • Bagikan
Ilustrasi operator sekolah
Ilustrasi operator sekolah. (ANTARA/Arnas Padda)
WhatsApp Channel Banner

TENAERS – Data Pokok Pendidikan (Dapodik) selama ini menjadi tulang punggung sistem administrasi sekolah. Namun, di balik ratusan entri angka dan dokumen daring itu, ada sosok-sosok sunyi yang bekerja tanpa sorotan, yaitu para operator sekolah.

Di Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), Nusa Tenggara Timur (NTT), sejumlah operator sekolah mengaku berada di titik jenuh. Mereka harus bekerja ekstra mengurus validasi data, penginputan siswa, guru, hingga laporan keuangan yang menjadi dasar pencairan Dana BOS. Namun, banyak dari mereka justru tidak mendapat penghargaan yang layak.

“Operator sekolah juga manusia. Kami punya keluarga, kebutuhan, dan harga diri. Tapi sering kali diperlakukan seperti buruh tak kasat mata,” ujar seorang operator yang enggan disebut namanya, Minggu, 6 Juli 2025.

Baca Juga: 7 Jurusan Kekinian di Unmaris Sumba, Salah Satunya Cuma Ada di NTT!

Belakangan, banyak sekolah di SBD yang menghadapi pembekuan Dana BOS. Beberapa lainnya bahkan mengalami pemotongan atau penundaan pencairan, yang diduga karena masalah teknis Dapodik atau ketidaksesuaian data. Namun, para operator menyebut bahwa sistem ini sering kali tidak adil.

“Kami sudah input sesuai petunjuk, tapi tetap dinilai tidak lengkap. Kadang hanya karena beda satu angka, dana BOS bisa ditahan. Kami yang disalahkan,” ujar operator lainnya.

Bahkan, insiden serius sempat terjadi beberapa waktu lalu ketika salah satu operator terlibat dalam cekcok dengan pejabat dinas pendidikan, hingga berujung pada penikaman di kantor Dinas P dan K SBD. Kasus ini saat ini sudah ditangani pihak kepolisian.

Baca Juga: Traffic Light di SBD Dijamin! Dapat Garansi 3 Tahun, Dishub: Bukan Sekadar Pasang

  • Bagikan