Miris! Pesta Adat di Sumba Disebut Picu Daerah 3T, Yeremia Tanggu Minta Marapu Dilindungi

  • Bagikan
Gambar ilustrasi
Gambar ilustrasi. (Tenaers/Dok. Istimewa)
WhatsApp Channel Banner

TENAERS – Tokoh masyarakat Sumba Barat Daya (SBD), Nusa Tenggara Timur (NTT), Yeremia Tanggu, menyoroti berbagai persoalan sosial, budaya, dan lingkungan yang terjadi di Pulau Sumba secara umum.

Ia menilai, praktik pesta adat yang berlangsung hampir setiap tahun di sejumlah wilayah Sumba berpotensi memicu masalah sosial dan ekonomi hingga menjadikan daerah tersebut terjebak dalam kategori daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Menurut Yeremia, nilai kesakralan kampung adat di berbagai wilayah Sumba kini mulai memudar.

Baca Juga: Bumi Ini Rumah Bersama: Ketika Hutan Sumba Barat Daya Dibabat, Tambolaka Mulai Tergenang

Pesta adat yang semestinya dijalankan dengan nilai-nilai Marapu justru, kata dia, kerap berubah menjadi ajang yang membebani masyarakat. Wilayah Kodi disebut sebagai salah satu contoh dari fenomena tersebut.

“Hampir setiap kampung adat sekarang sudah tidak lagi sakral. Bahkan ada yang membawa kendaraan bermotor ke pesta adat sebagai pengganti hewan yang seharusnya dibawa,” ujar Yeremia belum lama ini.

Ia juga menyoroti semakin berkurangnya populasi hewan ternak khas Sumba, seperti kuda, kerbau, sapi, babi, dan ayam.

Baca Juga: Planet Ini Hampir Tak Bernapas: Kesalahan Manusia yang Menghancurkan Rumah Bersama

Kondisi ini dinilai ironis, mengingat Sumba selama ini dikenal sebagai salah satu daerah penghasil ternak di NTT.

Akibat kelangkaan hewan di dalam daerah, sebagian warga akhirnya harus mendatangkan ternak dari luar Sumba, seperti dari Bima.

Yeremia meminta agar perdagangan hewan ternak di Sumba diatur dengan memperhatikan ketersediaan dan keberlanjutan populasi.

Baca Juga: NTT Mart Diresmikan, UMKM Sumba Barat Dapat Pasar Baru, Ini Pesan Tegas Gubernur NTT

  • Bagikan