Ia menegaskan, hewan-hewan ternak tersebut merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat Marapu dan harus dilindungi.
“Kuda, kerbau, sapi, babi, dan ayam harus dilindungi, sama seperti taman nasional Tana Daru. Jangan sampai habis baru kita sadar,” katanya.
Selain soal ternak, Yeremia juga mengingatkan pentingnya menjaga hutan dan seluruh isinya.
Baca Juga: Bukan Sekadar Toko, NTT Mart Jadi Pusat Transaksi UMKM SBD, ASN Wajib Belanja Produk Lokal
Menurutnya, hutan di Sumba merupakan bagian dari bumi Marapu yang menjadi rumah bersama bagi manusia dan makhluk hidup lainnya.
Ia menilai pembabatan hutan yang masih terjadi di sejumlah wilayah Sumba berpotensi memicu bencana alam, seperti longsor.
“Hutan tidak boleh dirusak. Di taman nasional saja, daunnya tidak boleh diambil, apalagi kayunya. Kalau hutan terus dibabat, longsor pasti terjadi,” ujarnya.
Baca Juga: Rumah Ibu Muslim Jadi Tempat Misa, BRIKasih Turun Tangan Bantu Gereja Katolik St Paulus Sodan
Yeremia mendorong pemerintah daerah dan pusat untuk memperkuat regulasi, termasuk menghadirkan peraturan daerah (Perda) tentang perlindungan ternak dan hutan.
Ia berharap Sumba kembali diarahkan sebagai pusat ternak dan sumber protein hewani di NTT, sehingga keseimbangan antara budaya, lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat dapat terjaga.
“Kalau tidak dijaga dari sekarang, lima sampai 25 tahun ke depan kita bisa kehilangan semuanya. Ini bukan soal kecil, ini soal masa depan Sumba,” tegas Yeremia.***






