TENAERS – Potret perjuangan dunia pendidikan di pelosok Indonesia kembali mencuri perhatian. Pelaksanaan Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) di SMA Katolik Sint John Wano Kaza, Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), berlangsung dalam kondisi yang jauh dari kata layak.
Bagaimana tidak, komputer dan perlengkapan asesmen harus diangkut secara manual melewati jalan berbatu menuju rumah pribadi operator sekolah, demi mendapatkan jaringan internet yang lebih baik.
Sekolah yang berada di pedalaman Sumba Barat ini, tak memiliki akses internet maupun pasokan listrik yang stabil.
Baca Juga: Bisa Turunkan Gula Darah hingga Cegah Kanker, Ini Rahasia Hebat Terong Hijau Kecil!
Pelaksanaan ANBK sempat dicoba di Kantor Desa Mata Wee Limma, namun gangguan sinyal dan listrik yang padam membuat proses tidak berjalan maksimal.
Karena tidak ingin anak-anak mereka tertinggal, pihak sekolah mengambil keputusan berani: memindahkan seluruh perangkat ANBK ke rumah operator, yang berada di lokasi lebih tinggi dan sedikit lebih bersinyal.
Kepala SMA Katolik Sint John Wano Kaza, Arnol Wonga, mengaku bahwa pemindahan tersebut dilakukan dengan alat dan tenaga seadanya. Tak ada mobil angkut, sebagian perangkat bahkan dipanggul dan dibawa dengan sepeda motor.
Baca Juga: Jangan Buang Tomat Hijau Kecil! Ini 7 Manfaat Dahsyat untuk Kesehatan Tubuh
“Jalan ke sana berbatu dan sempit. Kami angkut komputer, kabel, dan perlengkapan satu per satu. Ini semua agar siswa tetap bisa ikut ANBK,” ujar Arnol, Senin, 4 Agustus 2025.
Di rumah operator yang sederhana, bale-bale rumah panggung disulap menjadi ruang asesmen dadakan. Para siswa bergiliran mengerjakan soal, berbagi perangkat, dan mengikuti asesmen nasional dalam keterbatasan.






