Arnol menyayangkan bahwa standar pelaksanaan ANBK yang diseragamkan secara nasional belum mempertimbangkan kondisi geografis dan infrastruktur di daerah terpencil.
Baca Juga: Keracunan Massal MBG di Sumba, Anak Anggota DPRD Jadi Korban, Bupati Tak Tahu Siapa Penyedianya
“Kami merasa tertinggal bukan karena anak-anak kami tidak cerdas, tapi karena akses dan fasilitas sangat minim. Kebijakan yang seragam tanpa fleksibilitas justru membuat sekolah di daerah seperti kami kesulitan,” tegasnya.
Ia menilai bahwa hasil ANBK tidak bisa mencerminkan kualitas pendidikan secara adil jika akses dasar seperti listrik dan internet masih menjadi perjuangan.
Pihak sekolah berharap pemerintah tidak menutup mata terhadap perjuangan sekolah-sekolah di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar). Beberapa hal yang mereka usulkan antara lain:
Baca Juga: Motor Imam Katolik di Sumba Dicuri, Ditemukan di Semak-Semak!
- Penyediaan jaringan internet dan listrik yang stabil di daerah terpencil.
- Pembangunan laboratorium komputer permanen.
- Kebijakan asesmen yang mempertimbangkan kondisi masing-masing sekolah.
- Kolaborasi lintas sektor dalam mendukung pelaksanaan ANBK.
“Harapan kami bukan cuma nilai asesmen. Kami ingin anak-anak di pelosok punya akses yang sama dengan mereka yang di kota,” ujar Arnol.
Meski pelaksanaan asesmen berlangsung di atas bale-bale rumah panggung dan dengan perangkat terbatas, semangat para siswa tidak surut.
Baca Juga: Guru Indonesia Siap Go Global! Kemdiksaintek Siapkan Jalur Ajar di Eropa dan Australia
Mereka tetap datang tepat waktu, ikut ujian bergantian, dan mencoba memberikan hasil terbaik meski dalam keterbatasan.
“Kadang komputer mati karena listrik padam, tapi kami tetap lanjutkan. Kami ingin lulus dan lanjut kuliah,” ujar salah satu siswa dengan semangat.***






