Lebih jauh, ia optimistis Sumba memiliki keunggulan yang sulit ditandingi daerah lain. Dalam satu event pacuan, jumlah kuda yang bisa diturunkan di Sumba disebut bisa mencapai ratusan hingga lebih dari seribu ekor.
“Di tempat lain mungkin paling tinggi 300 ekor, tapi di Sumba kita bisa sampai seribu bahkan lebih. Ini potensi luar biasa,” katanya.
Tak hanya dari sisi olahraga, Umbu Rudi juga menyoroti dampak ekonomi yang akan muncul jika pacuan kuda tanpa pelana resmi masuk PON.
Baca Juga: Saat Pendidikan Datang Lebih Dekat, Salut Sumba Barat Jadi Jawaban bagi Ribuan Calon Mahasiswa
Ia memprediksi sektor usaha masyarakat akan ikut terdongkrak, mulai dari penyewaan kandang, pakan, hingga penginapan.
“Kalau peserta dari berbagai provinsi datang, ekonomi pasti bergerak. Harga kuda naik, rumput naik, penginapan penuh. Ini efek berantai yang sangat besar,” jelasnya.
Dalam targetnya, Umbu Rudi bahkan memasang ambisi tinggi untuk meraih 10 medali emas dari cabang pacuan kuda jika sudah dipertandingkan di PON.
Baca Juga: Tangis dan Gotong Royong di Gereja Katolik St Yoseph Saronsong: Plafon Roboh, Misa Pindah ke Aula
Ia menilai target tersebut realistis mengingat kekuatan dan tradisi berkuda masyarakat Sumba.
“PON kemarin NTT dapat tujuh emas dari beberapa cabang. Saya bilang, dari kuda saja kita bisa ambil 10 emas,” ujarnya optimistis.
Ia pun mengajak seluruh pihak, baik pemerintah daerah, komunitas, maupun masyarakat, untuk bersama-sama mendukung perjuangan tersebut.
“Ini tanggung jawab bersama. Kalau kita serius, ini bukan hanya soal olahraga, tapi juga kebanggaan dan masa depan ekonomi Sumba,” pungkasnya.***






