TENAERS — Jamal, seorang aparatur sipil negara (ASN) di lingkup Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), akhirnya angkat bicara terkait insiden keributan yang terjadi usai salat Jumat di Masjid Agung Al-Falah Waitabula, pada Jumat, 13 Maret 2026.
Keributan tersebut terjadi di Jalan Walet, Ledegiring, Desa Radamata, Kecamatan Kota Tambolaka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang menjadi lokasi bentrokan antar pihak.
Ia membantah tudingan yang menyebut dirinya membawa senjata tajam jenis samurai saat berada di lokasi kejadian.
Baca Juga: Baru Awal Tahun Sudah Rp4 Miliar! Sumba Barat Daya Yakin PAD 2026 Lampaui Target Rp53 Miliar
Menurut Jamal, benda yang dibawanya hanyalah sepotong kayu yang bentuknya menyerupai samurai.
“Ini kayu yang saya bawa, bukan samurai,” kata Jamal sembari menunjukkan benda tersebut kepada wartawan, Rabu, 18 Maret 2026.
Jamal menjelaskan, kehadirannya di lokasi semata-mata untuk melerai keributan setelah mendengar teriakan minta tolong dari tetangganya, Yusuf.
Saat itu, ia mengaku spontan menuju sumber suara tanpa mengetahui secara pasti apa yang sedang terjadi.
“Saya dengar ada yang teriak minta tolong, jadi saya langsung lari ke sana. Memang saya bawa kayu itu secara spontan,” ujarnya.
Setibanya di lokasi, Jamal mengaku sempat mencoba menanyakan duduk persoalan.
Namun, menurut dia, situasi justru memanas setelah Ustad Astatan Abdulrahman merespons dengan emosi.
