Ke depan, teknologi sensor ini juga dirancang untuk dikembangkan menjadi versi nirkabel atau wireless. Pengembangan tersebut diharapkan dapat menjangkau area pertanian yang lebih luas dengan biaya yang lebih terjangkau.
Program percontohan ini merupakan hasil kolaborasi antara BLK Don Bosco Sumba dan Common Room Foundation dalam mendorong pemanfaatan internet, digitalisasi, dan otomasi untuk pembangunan pedesaan.
Selain itu, Yayasan Pakebun turut berkontribusi melalui narasumbernya yang memberikan materi teori dan praktik mengenai penerapan IoT di bidang pertanian.
Baca Juga: Bukan Sekadar Tren! 7 Gaya Hidup Anak Muda yang Diam-Diam Bikin Hidup Lebih Sukses
Keunikan proyek ini terletak pada integrasi berbagai sarana yang telah dimiliki BLK Don Bosco Sumba, mulai dari menara bambu internet komunitas, stasiun cuaca lokal, hingga sistem irigasi tenaga surya.
Ketiga fasilitas tersebut dipadukan menjadi satu ekosistem teknologi untuk meningkatkan produktivitas pertanian di wilayah rural.
Direktur BLK Don Bosco Sumba, Br Ephrem Santos, mengatakan inovasi ini juga menjadi sarana pembelajaran bagi generasi muda agar siap menghadapi masa depan pertanian modern.
Baca Juga: NTT Mart Resmi Diluncurkan! Gubernur Melki: Sekolah Wajib Punya Produk Unggulan Sendiri
“Kami ingin kaum muda Sumba melihat bahwa pertanian bukan pekerjaan lama yang ditinggalkan, tetapi sektor masa depan yang bisa maju melalui teknologi, internet, dan energi terbarukan,” ujarnya, Sabtu, 25 April 2026.
BLK Don Bosco Sumba berharap proyek ini dapat menjadi pusat pembelajaran dan percontohan bagi petani, sekolah vokasi, pemerintah daerah, serta masyarakat sipil.
Dengan demikian, pengembangan pertanian cerdas yang adaptif terhadap perubahan iklim dan berkelanjutan dapat terus didorong di berbagai wilayah.***






