Langkah tersebut diharapkan mampu mengurangi pemborosan air, menekan risiko gagal panen, serta meningkatkan hasil produksi di tengah kondisi cuaca yang semakin tidak menentu.
Keunggulan lain dari inovasi ini adalah penggunaan energi surya sebagai sumber daya utama.
Hal ini menjadikan sistem sangat sesuai diterapkan di wilayah pedesaan yang memiliki intensitas sinar matahari tinggi namun masih terbatas akses listriknya.
Baca Juga: Dari Kenali Diri hingga Bahaya Pornografi: Program Rotary Ini Bikin Remaja Sumba ‘Tersadar’
Ke depan, teknologi sensor ini juga dirancang untuk dikembangkan menjadi versi nirkabel atau wireless. Pengembangan tersebut diharapkan dapat menjangkau area pertanian yang lebih luas dengan biaya yang lebih terjangkau.
Program percontohan ini merupakan hasil kolaborasi antara BLK Don Bosco Sumba dan Common Room Foundation dalam mendorong pemanfaatan internet, digitalisasi, dan otomasi untuk pembangunan pedesaan.
Selain itu, Yayasan Pakebun turut berkontribusi melalui narasumbernya yang memberikan materi teori dan praktik mengenai penerapan IoT di bidang pertanian.
Baca Juga: Bukan Sekadar Tren! 7 Gaya Hidup Anak Muda yang Diam-Diam Bikin Hidup Lebih Sukses
