TENAERS – Ada masa ketika seseorang harus menghadapi kesulitan sendirian. Saat hidup terasa berat, keadaan ekonomi belum membaik, dan masalah datang silih berganti, orang-orang yang dahulu dekat perlahan menghilang. Namun, ketika keadaan berubah dan kehidupan mulai terlihat mapan, mereka yang dulu jarang menyapa tiba-tiba kembali hadir.
Fenomena seperti ini bukan hal baru dalam kehidupan sosial. Kita mungkin pernah melihatnya, mendengarnya, atau bahkan mengalaminya sendiri.
Yang menyakitkan bukan semata-mata ketika tidak ada orang yang membantu saat kita kesusahan. Lebih dari itu, ada perasaan kecewa ketika menyadari bahwa kepedulian yang selama ini diberikan ternyata tidak selalu berbalas dengan ketulusan yang sama.
Ketika Kita Menjadi Tempat Mengadu
Baca Juga: Rencana MAU SUMBA di Kodi Utara Masuk Tahap Studi AMDAL, Warga Diminta Beri Masukan
Ada orang yang tetap membuka pintu bagi orang lain, meskipun dirinya sendiri sedang berjuang menghadapi kesulitan.
Ketika seseorang datang mengeluh tentang masalah hidupnya, kita berusaha mendengarkan. Ketika ia membutuhkan dukungan, kita mencoba hadir. Bahkan, saat keadaan sendiri sedang tidak baik-baik saja, kita tetap berusaha memberikan semangat, tenaga, waktu, atau bantuan sesuai kemampuan.
Kita melakukan semua itu bukan karena memiliki segalanya, melainkan karena memahami bagaimana rasanya berada dalam keadaan sulit.
Kita tahu bahwa terkadang seseorang tidak membutuhkan banyak hal. Ia hanya ingin didengarkan, dimengerti, dan tidak merasa sendirian menghadapi persoalan hidup.
Baca Juga: KMP Cakalang Kembali Beroperasi, Ini Jadwal Pelayaran 29–31 Mei 2026
Namun, persoalan mulai terasa ketika kepedulian itu berjalan satu arah. Kita selalu ada ketika orang lain membutuhkan, tetapi ketika giliran kita membutuhkan seseorang untuk sekadar mendengarkan keluh kesah, justru tidak ada yang benar-benar hadir.
Saat Kita Membutuhkan, Mereka Menghilang
Ada kenyataan pahit yang kadang harus diterima: tidak semua orang yang datang dalam kehidupan kita berniat membangun hubungan yang saling menguatkan.
Sebagian mungkin hanya merasa nyaman selama kita bisa memberikan sesuatu. Selama kita bisa membantu, menjadi tempat mengadu, atau dianggap memiliki kelebihan, hubungan itu terasa dekat.
Namun, ketika kita sendiri sedang kesulitan, keadaan berubah. Pesan tidak lagi segera dibalas. Telepon tidak diangkat. Pertemuan yang dahulu mudah dilakukan mendadak terasa sulit.
Kita pun mulai bertanya dalam hati, apakah selama ini hubungan tersebut memang dibangun atas dasar kepedulian, atau hanya karena ada sesuatu yang bisa diperoleh?
Pertanyaan itu tidak selalu membutuhkan jawaban langsung. Sebab, terkadang perilaku seseorang sudah cukup menunjukkan bagaimana ia memandang sebuah hubungan.
