TENAERS – Kisah pilu dialami Daud Gheda Kanda (74), seorang lanjut usia (lansia) warga Pero, Desa Ana Goka, Kecamatan Kodi Bangedo, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), Nusa Tenggara Timur (NTT).
Di usianya yang sudah senja, Daud harus menghadapi kenyataan pahit setelah rumahnya rusak akibat gempa bumi yang mengguncang wilayah Sumba pada Minggu, 4 Oktober 2026.
Gempa bumi yang awalnya dilaporkan berkekuatan magnitudo 6,1 itu menyebabkan bagian dalam rumah Daud roboh sehingga tidak lagi aman untuk ditempati.
Padahal, Daud baru saja melewati masa kritis akibat sakit dan kini masih menjalani proses pemulihan.
Baca Juga: Beras hingga Terpal Disalurkan untuk Korban Gempa Sumba Barat Daya, BPBD Jemput Kebutuhan Warga
Akibat kondisi rumah yang rusak serta kekhawatiran akan gempa susulan, Daud bersama keluarganya terpaksa meninggalkan rumah dan bertahan di bagian dapur.
Saat ini, sebanyak tiga kepala keluarga (KK) dengan total 17 orang harus bertahan di dapur tersebut, termasuk Daud dan anak-anaknya.
Pendeta Gereja Kristen Sumba (GKS) Lete Loko, Pdt. Dominggus Rangga Telingo, S.Th, menceritakan kondisi Daud yang sebelumnya sempat berada dalam keadaan kritis akibat sakit.
“Kemarin sempat kritis, dan sudah dibuatkan kuburnya, tapi puji Tuhan sekarang sudah dalam proses pemulihan,” kata Pdt. Domi, Jumat, 16 Oktober 2026.
Menurut Domi, Daud merupakan sosok yang telah menghibahkan tanahnya untuk pembangunan gereja.
Namun, setelah rumahnya rusak akibat gempa, Daud kini harus tinggal bersama anak-anaknya di dapur dengan kondisi yang serba terbatas.
